Jejak Darah dan Api: Kisah Horor Nyata di Balik Band Mayhem


Lotto02  Dalam sejarah musik dunia, tidak ada subkultur yang memiliki sejarah sekelam Norwegian Black Metal pada awal tahun 1990-an. Di pusat badai tersebut berdiri sebuah band bernama Mayhem. Bagi para anggotanya, musik bukan sekadar ekspresi seni, melainkan sebuah gaya hidup ekstrem yang melibatkan kematian, kriminalitas, dan ideologi radikal.

Fondasi Kebencian dan Ideologi Euronymous

Mayhem didirikan oleh Øystein Aarseth, yang lebih dikenal dengan nama Euronymous. Sejak awal, ia memiliki visi untuk menciptakan musik yang paling "jahat" dan tidak nyaman didengar. Baginya, black metal bukan sekadar sub-genre musik metal; itu adalah sebuah gerakan ideologis yang menolak nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian, dan agama.

Euronymous mendirikan toko kaset bernama "Helvete" (Neraka) di Oslo yang menjadi markas besar bagi komunitas yang disebutnya sebagai Inner Circle. Di sinilah ia menyebarkan pengaruhnya, menghasut musisi muda untuk melakukan aksi ekstrem demi membuktikan loyalitas mereka pada kegelapan.

Sosok Dead: Vokalis yang "Terjebak" di Dunia Lain


Kisah horor Mayhem dimulai dengan Per Yngve Ohlin, yang dikenal dengan nama panggung Dead. Ia bukan sekadar musisi dengan gaya teatrikal; Dead memiliki obsesi patologis terhadap kematian.

Ia sering mengubur pakaian panggungnya agar berbau tanah makam dan membawa bangkai hewan di dalam tasnya untuk dihirup sebelum tampil. Tujuannya satu: merasakan esensi menjadi mayat. Di atas panggung, Dead sering melakukan aksi melukai diri sendiri menggunakan silet atau pecahan kaca, membuat penonton menyaksikan horor nyata di depan mata mereka.



Tragedi di Rumah Kontrakan (1991)

Pada April 1991, obsesi Dead mencapai titik akhir. Ia ditemukan tewas bunuh diri oleh gitaris band, Euronymous (Øystein Aarseth). Alih-alih merasa trauma, Euronymous melihat kematian ini sebagai peluang untuk memperkuat citra "jahat" bandnya.


Sebelum melaporkan kejadian tersebut ke polisi, Euronymous melakukan hal yang tak terbayangkan:

Fotografi Jenazah: Ia memotret jenazah Dead, yang kemudian secara kontroversial digunakan sebagai sampul album Dawn of the Black Hearts.

Relikui Tulang: Muncul laporan bahwa Euronymous mengumpulkan serpihan tulang tengkorak Dead dan menjadikannya kalung sebagai simbol kesetiaan bagi orang-orang tertentu di komunitas Inner Circle.

Teror Pembakaran Gereja


Memasuki tahun 1992, Mayhem dan lingkaran pengikutnya mulai melakukan aksi terorisme fisik. Di bawah pengaruh ideologi anti-agama yang ekstrem, serangkaian gereja kayu bersejarah di Norwegia dibakar hingga rata dengan tanah. Salah satu pelakunya adalah Varg Vikernes, pemain bass sementara Mayhem yang juga sosok di balik proyek musik Burzum.

Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Euronymous (1993)

Hubungan antara Euronymous dan Varg Vikernes memburuk akibat perebutan kekuasaan, utang piutang, dan perbedaan ego. Pada malam 10 Agustus 1993, Varg mendatangi apartemen Euronymous di Oslo.


Terjadi pertikaian yang berakhir dengan tewasnya Euronymous akibat 23 luka tusukan. Pembunuhan ini mengguncang Norwegia dan mengakhiri era pertama Mayhem. Varg ditangkap dan dijatuhi hukuman 21 tahun penjara, sementara Mayhem kehilangan dua pilar utamanya secara tragis.

Ironisnya, di tengah semua kekacauan tersebut, Mayhem berhasil menyelesaikan album "De Mysteriis Dom Sathanas". Album ini dirilis pada tahun 1994 dan hingga kini dianggap sebagai "kitab suci" bagi genre black metal. Rekaman tersebut berisi vokal terakhir dari Dead dan permainan gitar dari Euronymous—sebuah monumen abadi dari sebuah tragedi yang nyata.

Hingga hari ini, nama Mayhem tetap berdiri bukan hanya karena musiknya yang agresif, tetapi karena sejarahnya yang penuh darah, api, dan kegelapan yang tak tertandingi oleh band mana pun di dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ian Antono: Maestro Gitar yang Membentuk Wajah Rock Indonesia

Mitch Lucker: The Fallen Prince of Deathcore

Festival Musik Terbesar di Indonesia dengan Penonton Terbanyak