Postingan

Jejak Darah dan Api: Kisah Horor Nyata di Balik Band Mayhem

Gambar
Lotto 02   Dalam sejarah musik dunia, tidak ada subkultur yang memiliki sejarah sekelam Norwegian Black Metal pada awal tahun 1990-an. Di pusat badai tersebut berdiri sebuah band bernama Mayhem. Bagi para anggotanya, musik bukan sekadar ekspresi seni, melainkan sebuah gaya hidup ekstrem yang melibatkan kematian, kriminalitas, dan ideologi radikal. Fondasi Kebencian dan Ideologi Euronymous Mayhem didirikan oleh Øystein Aarseth, yang lebih dikenal dengan nama Euronymous. Sejak awal, ia memiliki visi untuk menciptakan musik yang paling "jahat" dan tidak nyaman didengar. Baginya, black metal bukan sekadar sub-genre musik metal; itu adalah sebuah gerakan ideologis yang menolak nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian, dan agama. Euronymous mendirikan toko kaset bernama "Helvete" (Neraka) di Oslo yang menjadi markas besar bagi komunitas yang disebutnya sebagai Inner Circle. Di sinilah ia menyebarkan pengaruhnya, menghasut musisi muda untuk melakukan aksi ekstrem demi membuktika...

Limp Bizkit: Raja Nu-Metal yang Menolak Padam

Gambar
Lotto 02  Dalam sejarah musik rock, jarang ada band yang mampu memicu reaksi yang begitu ekstrem seperti Limp Bizkit. Mereka adalah anomali; sebuah grup yang berhasil menjual puluhan juta album sambil secara bersamaan dinobatkan sebagai "band yang paling dibenci di Amerika" oleh para kritikus. Namun, di balik topi baseball merah dan lirik yang penuh kemarahan, terdapat kisah tentang inovasi, ketahanan, dan pemahaman tajam terhadap budaya populer.  Akar di Jacksonville dan Visi Fred Durst Semuanya bermula di Jacksonville, Florida, pada tahun 1994. Fred Durst, seorang seniman tato yang memiliki ambisi besar untuk menembus industri musik, bertemu dengan bassist Sam Rivers. Durst bukanlah vokalis rock tradisional; ia lebih terobsesi dengan teknik flow hip-hop daripada melodi heavy metal. Mereka kemudian merekrut sepupu Rivers, John Otto, seorang drummer dengan latar belakang jazz yang kuat, serta Wes Borland, seorang gitaris eksentrik yang lebih mirip seniman visual daripada musi...

The Police: Ketika Maestro Jazz "Menyamar" Menjadi Punk

Gambar
LoLotto 02    Di penghujung tahun 1970-an, industri musik Inggris sedang mengalami gempa tektonik. Musik rock progresif yang rumit dan solo gitar yang panjang dianggap telah mati, digantikan oleh agresi mentah dari gerakan Punk Rock. Di tengah transisi inilah, The Police muncul sebagai anomali—sebuah band yang mengenakan seragam punk, namun memiliki otak jazz dan jiwa reggae. Kelahiran dari Ambisi Stewart Copeland Kisah The Police dimulai bukan dari keinginan untuk memberontak, melainkan dari visi strategis Stewart Copeland. Sebagai drummer band rock progresif Curved Air, Copeland melihat langsung bagaimana punk menghancurkan segala sesuatu yang dianggap mapan. Ia menyadari bahwa jika ia tidak beradaptasi, ia akan tenggelam. Copeland kemudian merekrut seorang pemain bass sekaligus guru sekolah dari Newcastle bernama Gordon Sumner—yang lebih dikenal dengan nama Sting. Bersama gitaris Henry Padovani, mereka membentuk trio dan mulai bermain di klub-klub punk yang kumuh di London....

Yngwie Malmsteen: Sang Maestro "Gila" yang Mengubah Wajah Gitar Elektrik

Gambar
  LoLotto 02  Dalam dunia gitar elektrik, ada garis tipis antara kejeniusan dan kegilaan. Bagi Yngwie Johann Malmsteen, garis itu mungkin tidak pernah ada. Pria asal Swedia ini bukan sekadar musisi; ia adalah sebuah fenomena yang mendobrak pakem rock 'n roll dengan kecepatan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Lahir di Stockholm, Swedia, pada tahun 1963 dengan nama Lars Johan Yngve Lannerbäck, Yngwie kecil awalnya tidak terlalu tertarik pada musik. Semuanya berubah pada 18 September 1970. Saat itu, ia menonton berita tentang kematian legenda gitar Jimi Hendrix. Namun, bukan kesedihan yang ia rasakan, melainkan kekaguman saat melihat rekaman Hendrix membakar gitarnya di atas panggung. Hari itu, Yngwie berkata, "Gitar itu harus saya kuasai." Namun, ia tidak meniru Hendrix. Ia justru membawa pengaruh dari sumber yang sangat tidak lazim bagi seorang anak rock: Niccolò Paganini. Yngwie menyadari bahwa teknik biola virtuoso abad ke-19 bisa diterapkan pada gitar elektrik. ...

Kisah Mendalam di Balik Lagu Wake Me Up When September Ends – Green Day

Gambar
  LoLotto 02  Lagu Wake Me Up When September Ends merupakan salah satu karya paling emosional dan personal yang pernah ditulis oleh Green Day. Dirilis pada tahun 2004 sebagai bagian dari album konsep legendaris American Idiot, lagu ini menampilkan sisi berbeda dari band yang dikenal dengan musik punk rock yang energik dan penuh kritik sosial. Dalam lagu ini, Green Day justru menghadirkan nuansa melankolis, reflektif, dan sarat makna emosional. Latar Belakang Pribadi Sang Penulis Lagu Lagu ini ditulis oleh Billie Joe Armstrong, vokalis dan penulis utama Green Day. Inspirasi lagu berasal dari tragedi masa kecil yang membekas sepanjang hidupnya, yaitu kematian ayahnya, Andy Armstrong, yang meninggal dunia akibat kanker pada September 1982. Saat itu, Billie Joe baru berusia 10 tahun. Peristiwa tersebut meninggalkan luka emosional yang sangat dalam. Billie Joe bahkan pernah menceritakan bahwa setelah pemakaman ayahnya, ia mengurung diri di kamar dan menolak menghadapi kenyataan. Bu...

Mitos Pesan Tersembunyi Satanik dalam Lagu “Stairway to Heaven” karya Led Zeppelin

Gambar
LoLotto 02  Lagu “Stairway to Heaven” karya Led Zeppelin, yang dirilis pada tahun 1971 dalam album Led Zeppelin IV, telah lama dianggap sebagai salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah musik rock. Dengan struktur musik yang berkembang perlahan dari balada akustik hingga klimaks rock yang megah, lagu ini menjadi simbol kreativitas dan kedalaman artistik band tersebut. Namun, di balik reputasi besarnya, Stairway to Heaven juga dibayangi oleh kontroversi panjang mengenai dugaan pesan tersembunyi bernuansa satanik yang konon dapat terdengar jika lagu ini diputar secara terbalik. Latar Sosial dan Budaya Munculnya Tuduhan Isu backmasking mulai populer pada akhir 1970-an dan memuncak pada 1980-an, terutama di Amerika Serikat. Pada masa itu, terjadi apa yang sering disebut sebagai moral panic—ketakutan kolektif terhadap pengaruh budaya populer, khususnya musik rock, yang dianggap merusak nilai-nilai moral dan religius generasi muda. Banyak band rock dan heavy metal menjadi sasaran tuduh...

Anthrax Mengguncang JogjaROCKarta 2025: Penutup Megah di Stadion Kridosono

Gambar
  LoLotto 02   Festival rock terbesar Jogja, JogjaROCKarta, kembali menghadirkan gebrakan besar pada gelaran tahun 2025. Diadakan pada 6–7 Desember di Stadion Kridosono, festival ini menjadi semakin istimewa karena menghadirkan legenda thrash metal asal Amerika Serikat, Anthrax, sebagai penampil utama pada hari kedua. Konser ini bukan hanya menjadi daya tarik utama festival, tetapi juga menandai momen bersejarah dalam perjalanan panggung rock di Yogyakarta. Headliner yang Ditunggu-Tunggu Anthrax diumumkan sebagai headliner utama hari Minggu, 7 Desember 2025. Pengumuman ini langsung menyedot perhatian para penggemar musik keras di Indonesia, mengingat band ini merupakan salah satu dari “Big Four” thrash metal bersama Metallica, Megadeth, dan Slayer. Kedatangan mereka di Jogja dipandang sebagai langkah besar bagi festival serta menjadi kabar gembira bagi komunitas metal tanah air. Suasana Konser: Energi yang Meledak Sejak Awal Sejak sore hari, ribuan penonton mulai memenuhi area...