Sepultura: Kisah Band Heavy Metal Brasil Yang Menguncang Dunia
Dari Lorong Gelap Brasil ke Panggung Dunia
Lotto02 Di tengah gejolak politik dan sosial Brasil pada awal 1980-an, dua remaja kakak-beradik bernama Max dan Igor Cavalera memutuskan untuk membuat musik keras yang bisa meluapkan amarah mereka. Terinspirasi dari band-band seperti Motörhead, Slayer, dan Venom, mereka membentuk sebuah band yang kelak akan mengubah wajah musik metal dunia. Nama band itu adalah Sepultura — yang dalam bahasa Portugis berarti "kuburan."
Pilihan nama itu bukan tanpa makna. Max terinspirasi dari lagu "Dancing on Your Grave" dan ingin membawa nuansa kelam dan kematian ke dalam musik mereka. Dari kamar sempit dan alat seadanya, mereka mulai merekam lagu-lagu dengan suara mentah dan agresif.
Dari Underground ke Dunia Internasional
Sepultura memulai perjalanan mereka di dunia underground metal dengan EP Bestial Devastation dan album penuh pertama Morbid Visions. Musik mereka sangat dipengaruhi oleh death metal awal—kasar, cepat, dan brutal. Tapi itu baru permulaan.
Kehadiran Andreas Kisser sebagai gitaris membawa perubahan besar. Musikalitas meningkat, lirik lebih tajam, dan arah band makin matang. Tahun 1989, album Beneath the Remains membawa mereka menembus pasar internasional lewat kontrak dengan label Roadrunner Records.
Mereka tak hanya tampil di Amerika dan Eropa, tapi juga Indonesia. Konser mereka tahun 1992 di Jakarta dan Surabaya dikenang sebagai salah satu konser metal terbesar era itu di Indonesia.
Eksperimen dan Terobosan
Sepultura tidak puas hanya dengan menjadi band thrash metal. Mereka bereksperimen. Album Chaos A.D. (1993) menunjukkan sisi baru: lirik politik, ketukan groovy, dan pengaruh hardcore. Tapi puncaknya adalah Roots (1996). Mereka menggabungkan unsur musik suku asli Brasil dengan metal modern, menciptakan tribal metal yang belum pernah ada sebelumnya.
Album itu bukan hanya inovatif — ia menjadi tonggak penting dalam sejarah musik metal dunia.
Di album Chaos A.D. (1993), Sepultura mulai bereksperimen dengan:
Elemen groove metal, hardcore punk, dan industrial.
Tema sosial-politik seperti penindasan dan ketidakadilan.
Puncak eksplorasi mereka terjadi di album Roots (1996), di mana mereka:
Menggabungkan musik tradisional Brasil, termasuk instrumen suku asli Xavante.
Menampilkan kolaborasi dengan Jonathan Davis (Korn) dan Mike Patton (Faith No More).
Album ini dianggap sebagai pelopor nu-metal tribal, yang kemudian diikuti oleh banyak band di era 2000-an.
Perpecahan dan Awal Baru
Sayangnya, kesuksesan membawa konflik. Tahun 1996, Max keluar dari band setelah perselisihan internal, terutama soal manajemen dan arah musik. Tak lama kemudian, ia membentuk band baru: Soulfly.
Sepultura tetap berdiri. Mereka merekrut vokalis baru: Derrick Green, yang membawa napas baru dari Amerika Serikat. Meski banyak fans lama sempat kecewa, Derrick membuktikan kualitasnya lewat album-album penuh energi seperti Against, Nation, dan Quadra.
Tahun 2006, Igor Cavalera menyusul keluar. Kini, dari pendiri awal, hanya Paulo Jr. (bassis) yang tersisa. Tapi Sepultura tidak berhenti. Mereka terus membuat musik, terus tampil, terus menyuarakan perlawanan.
Perpisahan dan Warisan
Pada tahun 2024, setelah 40 tahun berkarya, Sepultura mengumumkan "Farewell Tour", tur perpisahan yang akan menjadi bab terakhir dari perjalanan panjang mereka. Bukan karena lelah, tapi karena mereka ingin menutup cerita dengan cara terhormat.
Warisan Sepultura lebih dari sekadar musik keras. Mereka menunjukkan bahwa:
Musik ekstrem bisa lahir dari tempat terpinggirkan.
Budaya lokal bisa menyatu dengan genre global.
Metal bisa menjadi alat perlawanan, bukan sekadar hiburan.







Komentar
Posting Komentar