GG Allin, vokalis yang lebih dikenal karena kekacauannya daripada Musiknya


 
Lotto02 Jika ada seseorang bertanya, “Siapa musisi paling menjijikan dalam musik rock?,” tentu jawabannya akan mengarah ke sosok bengal nan slebor bernama GG Allin. Bagaimana tidak? Pria berkepala plontos itu terkenal akan kebrutalan dan tingkah laku tak senonohnya, baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika dirinya menyuguhkan aksi panggung yang terkesan sinting!

Allin kerap kali ‘lepas kontrol’ ketika sedang mengimami para penggemarnya saat berada garda depan panggung. Sembari bertelanjang dalam keadaan mabuk tanpa sehelai benang, Allin pun berperilaku seperti layaknya orang gila di tengah keramaian crowd. Mulai dari membuang air seni di atas lantai sampai buang hajat di atas panggung, dan sintingnya (maaf berikut ini sungguh menjijikkan) ia pun pernah memakan kotorannya sendiri dengan lahap di depan khalayak di kala pentas. Aksi pukul-pukulan dengan penonton hingga melukai diri sendiri (memukul mikrofon ke jidatnya) pun tak lagi dapat terhindarkan. Namun tentu namanya takkan jadi selegendaris seperti sekarang kalau ia tak berbuat hal-hal amoral seperti yang disebutkan di atas.

Awal Kehidupan yang Kelam



Nama Asli: Kevin Michael Allin (lahir sebagai Jesus Christ Allin)

Nama Panggung: GG Allin

Lahir: 29 Agustus 1956, Lancaster, New Hampshire, Amerika Serikat

Meninggal: 28 Juni 1993, New York City, Amerika Serikat

Genre: Punk Rock, Hardcore Punk

Band: The Jabbers, The Scumfucs, The Murder Junkies

GG Allin dilahirkan dengan nama unik dan ekstrem: Jesus Christ Allin. Nama ini diberikan oleh ayahnya, yang memiliki gangguan mental dan meyakini bahwa anaknya adalah Mesias. Kehidupan masa kecil GG sangat berat—ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh ketakutan, kekerasan, dan tekanan religius.

Setelah ibunya menceraikan ayahnya, ia mengganti nama anaknya menjadi Kevin Michael Allin. Meski telah lepas dari pengaruh ayahnya, trauma masa kecil membentuk kepribadian GG yang penuh kemarahan dan kebencian terhadap sistem sosial.

Perjalanan Musik



Karier musik GG Allin dimulai pada akhir 1970-an dengan band pertamanya, The Jabbers. Musik awal GG masih terdengar seperti punk rock pada umumnya, namun seiring waktu, ia menjadi semakin ekstrem dan penuh kontroversi.

Awal mula perkenalan Allin dengan musik saat ia baru menyelesaikan sekolah tingkat menengah atas di Concord High School di Vermont. Allin memulai karier sebagai drummer bersama teman-temannya membentuk band bernama Stripsearch, sekaligus menciptakan dan memainkan nomor-nomor kebut khas punk rock seperti “Galileo” dan “Jesus in New York”.  Selang beberapa tahun kemudian, di periode tahun 1977-1984 Allin pun tampil sebagai pentolan untuk unit punk rock bernama The Jabbers di mana dirinya turut didaulat sebagai vokal sekaligus drummer.

Album perdana GG Allin muncul di tahun 1980. Opus berjudul Always Was, Is and Always Shall Be menjadi tonggak penanda karier Allin di industri musik. Nuansa punk rock dan hardcore menggaung bising di rentetan repertoar lagu-lagu yang ia ciptakan. Di tahap ini juga, jiwa seorang GG Allin mulai tumbuh tak terkontrol dan beringas. Penggunaan barang-barang haram mulai sering dilakukannya. Allin mulai adiktif dengan heroin dan alkohol. Terkadang ia sampai menelan pil sembarangan tanpa menanyakan balik pil apa yang sedang dikonsumsinya tersebut.

Beberapa band yang ia bentuk atau ikuti di antaranya:

The Scumfucs

The Texas Nazis

The Murder Junkies

Lirik-lirik lagunya bertemakan seks, kekerasan, pelecehan, dan anti-sosial. Beberapa judul lagu bahkan terlalu vulgar untuk disebutkan secara terbuka. GG mengklaim bahwa musik dan aksinya adalah bentuk perlawanan terhadap kemunafikan masyarakat.


Konser Brutal dan Aksi Tak Masuk Akal



Nama GG Allin terkenal bukan karena musiknya semata, tapi karena aksi panggungnya yang ekstrem:

Melukai dirinya sendiri dengan pisau atau botol.

Buang air besar dan melemparkan kotorannya ke penonton.

Menyerang penonton secara acak.

Bernyanyi sambil telanjang atau melakukan aksi seksual di atas panggung.

Konsernya hampir selalu berakhir kacau—baik karena penonton melarikan diri, polisi datang, atau pemilik venue menghentikannya.

Pertunjukan GG Allin sering mengakibatkan kerusakan yang cukup besar untuk tempat dan peralatan sound-nya. Para aparat kepolisian juga seringkali menghentikan show ketika Allin baru saja memainkan beberapa lagu di atas panggung. Ia didakwa karena telah melakukan serangan dan hal-hal yang tak senonoh dilakukannya saat pentas. Jadwal turnya pun terpaksa berhenti hanya karena ia harus berurusan dengan hukum, patah tulang akibat terlalu agresif di panggung hingga keracunan darah karena mengonsumsi narkoba.


Belum cukup sampai di situ, ia kembali menebar kegilaan dengan ancaman bunuh diri. Di tahun 1988, Allin secara tegas menuliskan surat kepada Maximum RocknRoll bahwa ia berencana akan bunuh diri di atas panggung bertepatan pada Halloween di tahun 1989. Namun, nyatanya ia malah mendekam di penjara ketika hari itu tiba. Ia pun melanjutkan ancamannya di tahun berikutnya tetapi pada akhirnya Allin menghabiskan waktu sebagai tahanan di penjara ketika Halloween tiba.

Nama GG Allin mulai dilirik ketika Reachout International Records (ROIR) mengontraknya serta merilis album penuh berjudul Hated in the Nation (1987) yang berisikan track-track dari katalog Allin bersama The Jabbers, The Scumfucs dan Cedar Street Sluts. Perlahan namun pasti, GG Allin mulai mendapati tempat di kalangan pecinta punk maupun hardcore. Walau nyatanya ia terpaksa harus dilabeli sebagai punk rocker paling menjijikkan di dunia.

Kehidupan Pribadi dan Penjara

Di luar panggung, kehidupan GG sama destruktifnya. Ia sering terlibat kasus hukum, terutama penganiayaan dan kekerasan seksual. Pada tahun 1989, ia dipenjara karena menyerang seorang wanita dalam hubungan sadomasokis yang sangat brutal.


Saat dipenjara, GG mulai menulis puisi, surat, dan pernyataan-pernyataan tentang pandangannya yang nihilistik dan penuh kebencian terhadap otoritas dan moralitas.


Kematian Tragis

GG Allin meninggal dunia pada 28 Juni 1993, akibat overdosis heroin, tak lama setelah tampil di sebuah konser kecil di New York. Konser tersebut seperti biasa berakhir rusuh, dan malam itu ia menghabiskan waktu berpesta narkoba dengan penggemarnya hingga akhirnya ditemukan tewas keesokan paginya.



Pemakaman yang Ikonik

Pemakamannya pun penuh dengan simbol pemberontakan:

Jenazahnya dibiarkan tak dimandikan, masih kotor dan berlumuran darah.

Ia dimakamkan dengan jaket kulit, kacamata hitam, dan sebotol wiski di tangannya..

Sesuai dengan perintah dari saudara kandungnya, ketika dimakamkan, Allin diminta untuk tak mencuci bahkan memandikan jenazah yang kala itu berbau tinja yang sangat menusuk. Dari pihak keluarga juga melarang untuk memakaikan riasan ke wajah jenazah. Dan gilanya, kerabat Allin berdatangan hanya untuk mengabadikan momen berfoto sambil menyelipkan narkoba dan sebuah wiski ke dalam mulutnya yang telah terbujur kaku. Sebagai penghormatan terakhir, sang kakak memakaikan sepasang headphone ke kepala Allin sembari diputarkan lagu “The Suicide Session” di portabel musik miliknya.



Tak seperti kebanyakan mendiang musisi dunia, yang selalu dihormati penggemarnya dengan seikat karangan bunga indah, makam GG Allin hingga kini sering dikencingi, dikotori dengan puntung rokok, alkohol sampai tinja oleh para fans fanatiknya. Hal tersebut semata-mata dilakukan hanya untuk menghormati sang idola. Mereka berpikir kalau itu adalah cara terbaik mengenang sosok GG Allin!

Ingat Kemenangan Ingat Lotto02


“Klik Di Bawah Untuk Info Slot Tergacor Dari Tim Lotto02”

🎰 Lihat RTP Slot Hari Ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ian Antono: Maestro Gitar yang Membentuk Wajah Rock Indonesia

Kurt Cobain dan Kejayaan Singkat Nirvana

Salah Satu Musisi Hebat Indonesia Itu Bernama Pay (Parlin Burman Siburian)